Hari ini aku menerima pesan ini, bahwa ada upaya orang masuk ke dalam akun Apple-ku. Untuk itu aku diminta mengconfirm lagi Apple-ID ku. Mula-mula link ini hampir saja ku klik. Tapi tiba tiba aku merasa aneh karena aku tidak menggunakan email tempat aku menerima peringatan ini. Aku menggunakan akun yang lain. Lalu, kenapa Apple mengirim peringatan ke akun yang berbeda? Mulailah lagi kulihat alamat pengirim email ini....dan, aku langsung sadar, ini phishing! Mungkin nanti aku harus memasukkan nama user id dan passwordku...dan kemungkinan bobol-lah akun Apple-ku yang jelas-jelas berhubungan dengan kartu kredit. Hati-hati teman-teman....
Cyberthreat
Never Tell the Bad Guys Our Confidential Information
Monday, February 17, 2014
Wednesday, November 30, 2011
Mengamankan mobile phone
Dalam beberapa tahun terakhir, virus dan malware sudah menghampiri mobile phone.Ya, tentu saja karena mobile phone sudah nyaris seperti portable computer. Mereka punya operating system sendiri. Ada iOs, ada Android, Bada,Windows mobile dan sebagainya. Konon, malware untuk Android adalah yang terheboh, menyaingi malware untuk Windows Operating System kalau kita bicara soal komputer. Tentu yang dianggap mengerikan adalah bahwa anti virus untuk berbagai model PC dikembangkan dengan baik dan mencoba menangani virus baru secepat mungkin. Tetapi,belum tersedia anti malware yang memadai untuk Android produk, seperti halnya untuk Windows PC. Dan kini smart phone, kita mengakses apa saja dari mana saja, termasuk perbankan dan berbagai service lainnya yang kadang menanyakan informasi personal kita. Dan yang lebih parah, benda ini kecil kita bawa kemana saja. Bagaimana mengontrolnya?
Ada hal hal kecil sederhana yang bisa kita lakukan jika kita memiliki smartphone. Saat ini penulis hanya punya pengalaman sebagai pengguna iPhone. Oleh sebab itu mungkin saran ini sangat berkaitan dengan pola yang penulis pakai:
Ada hal hal kecil sederhana yang bisa kita lakukan jika kita memiliki smartphone. Saat ini penulis hanya punya pengalaman sebagai pengguna iPhone. Oleh sebab itu mungkin saran ini sangat berkaitan dengan pola yang penulis pakai:
- Jangan biarkan siapa saja menggunakan mobile phone kita, pasang passcode. Sehingga jika hilangpun orang tidak bisa langsung membongkar seluruh isi data iPhone kita.
- Biasakan pergunakan SIM card dengan pss-code-nya juga
- Biasakan menset-up dalam bentuk "auto-lock", jadi jika tergeletak agak lama, layar security akan menutup otomatis, dan hanya bisa dibuka kembali dengan pass code.
- Biasakan punya password untuk masuk appstore. App-Store saya terhubung dengan kartu kredit. Jadi, jika tak hati-hati dan main "tap", tiba tiba tagihan kita menggunung. Kadang anak-anak ingin meminta aplikasi gratisan. Lalu saya mengisi password di appstore. Ternyata appstore tidak selalu meminta password setiap akan menginstall aplikasi baru terutama jika ajrak isntalasi bedekatan. Oleh sebab itu, hati hati ketika memberi authorisasi.
- Remap home button, yang bisa disetting di bagian Setting i Phone. Jangan pilih Phone favorite, tapi pilihlah "home". Maka ini akan me remap home button phone kita.
Tentu selebihnya hati hati ketika membawa mobile phone. Lalu jika tetap hilang? Ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Sejak awal aktifkan Find My iPhone
- Ada banyak aplikasi iPhone yang bisa mendelete data dari jarak jauh
- Selalu pasang setting delete data jika 10 kali salah memasukkan pass-code. Maka sang pencuri tak akan dapat data apa apa dari iPhone kita.
Jika tak ada passscode sama sekali: pastikan seluruh email kita diganti passwordnya, karena iPhone jelas jelas menyimpan data email account kita....
Soal antivirus: hingga saat ini iPhone mengklaim tidak ada virus yang menyerang iPhone. Artinya, tak ada antivirus kalaupun virus ada. Nah tentu kita juga harus mencek, bagaimana dengan mobile phone yang menggunakan operating system lainnya....
Soal antivirus: hingga saat ini iPhone mengklaim tidak ada virus yang menyerang iPhone. Artinya, tak ada antivirus kalaupun virus ada. Nah tentu kita juga harus mencek, bagaimana dengan mobile phone yang menggunakan operating system lainnya....
Tuesday, November 29, 2011
Nice to meet you email
Kadangkala, mampir juga email-email spam berbau romantik. Tentu saja judulnya yang menggoda, "Nice to meet you".
![]() |
| Contoh Nice to meet you |
Scam Bisnis
Email yang menawarkan kesempatan berbisnis, tergolong praktek scam klasik. Email tersebut biasanya berisi tawaran kerjasama dan investasi. Ada beberapa variasi scam seperti ini. Yang pertama mencari partner lokal untuk menanamkan uangnya tersebut. Jika kita menjawab email tersebut, salah satu kemungkinan yang terjadi, ia meminta data konfidensial kita, antara lain nomor rekening dan tanggal lahir kita; atau kadang meminta nomor SIM dan aneka alat legitimasi lain seperti nomor passport. Di negara maju, tanggal kelahiran merupakan alat masuk ke berbagai aneka pelayanan publik dan perbankan. Tentu ada perangkat "security" lainnya yang membuat orang tak mudah masuk akun-akun publik kita. Tetapi taktik scam seperti ini masih saja digunakan.
Penulis menggunakan pengorganisir email yang juga disertai filter, sehingga jika ada email mencurigakan, segera di beri tanda "spam" dan masuk ke "trash". Tak semua orang menggunakan filter, dan tak semua filter email mampu mengenali variasi email spam jenis baru.Menghadapi email seperti ini, biasakan untuk selalu mengecek beberapa hal yang bisa menjadi indikasi apakah email ini tergolong yang bisa "dipercaya", atau spam yang harus di buang. Hal-hal yang bisa kita lakukan adalah dengan melihat informasi yang sepintas ganjil:
![]() |
| Contoh email berupa tawaran berbisnis |
Penulis menggunakan pengorganisir email yang juga disertai filter, sehingga jika ada email mencurigakan, segera di beri tanda "spam" dan masuk ke "trash". Tak semua orang menggunakan filter, dan tak semua filter email mampu mengenali variasi email spam jenis baru.Menghadapi email seperti ini, biasakan untuk selalu mengecek beberapa hal yang bisa menjadi indikasi apakah email ini tergolong yang bisa "dipercaya", atau spam yang harus di buang. Hal-hal yang bisa kita lakukan adalah dengan melihat informasi yang sepintas ganjil:
- Pengirim menyatakan dirinya berasal dari Libya dan menggunakan nama muslim. Tetapi, alamat "reply-to" menunjuk pada domain .ru (Rusia).
- Subject-nya berjudul OGENT. Mungkin seharusnya "URGENT". Tetapi karena filter email mungkin sudah disertai beberapa kamus yang memperkirakan apakah sebuah email itu spam atau tidak, dan URGENT sudah masuk dalam kamus tersebut, maka sering orang dengan sengaja menggunakan judul email dengan typo (kesalahan mengetik).
- To: tidak menunjuk pada diri kita, melainkan "undisclosed recipients". Feature pengiriman email seperti ini biasanya dilakukan jika kita ingin mengirim email pada sejumlah besar penerima, dan kita ingin menjaga "privacy" email penerimanya. Kita men-set tujuan email (To) sebagai BCC (Blind Carbon Copy).
- Pembuka email, hanya Dear, tanpa menyebutkan nama kita. Kalimat pembuka seperti ini tidak lazim dalam dunia surat menyurat.
Selebihnya, untuk mengetahui keabsahan email adalah pengalaman. Orang yang sering menerima email macam ini akan memiliki "insting" apakah email ini sungguh sungguh atau scam.
Wednesday, July 20, 2011
Jangan Terjebak Permintaan "System Administrator"
Jika kita bekerja pada sebuah lembaga yang memberi akses email kepada kita, perhatikan baik-baik prosedur "security"-nya. Informasi terpenting ketika membuka akun email adalah user name dan password. Meski keduanya merupakan informasi yang sensitif, password biasanya merupakan informasi yang tidak pernah di-sharing pada siapapun.
Penulis memiliki akses email tetap ke webmail kampus Universitas Agder di Grimstad, Norwegia. Salah satu prosedur pengamanan akun email yang lazim dilakukan setiap tahun, yaitu mengganti password. Tetapi salah satu kebijakan utama kampus, system administrator tidak pernah menanyakan password pribadi kita. Sayangnya, mungkin tak semua menyimak informasi tersebut. Sehingga, jika mendapat email dari "system administrator", orang kadang cenderung mempercayainya, apalagi jika email itu tampak "legitimate", dan orang jadi lengah karena terbiasa mengganti password setiap tahun.
Coba perhatikan baik-baik contoh email di bawah ini yang butuh pengamatan lebih jauh untuk bisa menilai email ini sebagai email sah atau tidak.
Mengapa Kelihatan Seperti Email Sah?
Penulis memiliki akses email tetap ke webmail kampus Universitas Agder di Grimstad, Norwegia. Salah satu prosedur pengamanan akun email yang lazim dilakukan setiap tahun, yaitu mengganti password. Tetapi salah satu kebijakan utama kampus, system administrator tidak pernah menanyakan password pribadi kita. Sayangnya, mungkin tak semua menyimak informasi tersebut. Sehingga, jika mendapat email dari "system administrator", orang kadang cenderung mempercayainya, apalagi jika email itu tampak "legitimate", dan orang jadi lengah karena terbiasa mengganti password setiap tahun.
Coba perhatikan baik-baik contoh email di bawah ini yang butuh pengamatan lebih jauh untuk bisa menilai email ini sebagai email sah atau tidak.
| Contoh email yang meminta password dari System Administrator |
Mengapa Kelihatan Seperti Email Sah?
- Pengirimnya System Administrator
- Domain name-nya seperti systemadministrator.no (menunjukkan Norwegia)
- Subjeknya meyakinkan, seolah-olah terjadi error atau kesalahan di akun kita.
- Alasan mengganti password juga meyakinkan, bahwa akun ini telah dipergunakan untuk login ke berbagai komputer.
- Pengirimnya Webmail Help Desk juga meyakinkan.
Apa yang membuat email ini terlihat palsu?
- Menanyakan user name (Brukernavn) kita. System administrator akan selalu mengetahui user name para pengguna webmail sehingga tak perlu menanyakan informasi tersebut.
- Email menanyakan password (passord) kita
- Email menanyakan tanggal lahir kita
- Alamat reply-to-nya mencurigakan; domain namenya menunjukkan alamat ke Cina (.cn)
- Alamat email pengirim bukan systemadministrator.no, melainkan systemuadministrator.no. Mungkin jika hanya system administrator.no, telah ada orang yang memilikinya.
Jika orang berhasil memancing kita untuk mengisi data yang diminta tersebut, maka "bad guys" di sebrang sana bersorak kegirangan karena kita telah memberikan informasi konfidensial: password dan email. Dalam kebijakan security di kampus, system administrator tidak pernah menanyakan password dan kita selalu harus menggantinya sendiri tanpa intervensi pihak ketiga.
Subscribe to:
Posts (Atom)


